Bergabung dengan Liverpool pada awal musim panas lalu, Hugo Ekitike tak hanya menghadapi tantangan baru di lapangan, tetapi juga menjalani pengalaman spiritual yang berbeda. Ramadan kali ini menjadi yang pertama baginya di Inggris sejak merapat ke klub berjuluk The Reds tersebut. Sebagai seorang muslim, momen ini tentu terasa istimewa sekaligus penuh adaptasi.

Tinggal dan bermain di lingkungan baru tidak membuat Ekitike kehilangan semangat dalam beribadah. Justru, ia menemukan suasana yang mendukung di dalam klub. Liverpool dikenal memiliki atmosfer yang ramah bagi para pemain dari berbagai latar belakang, termasuk mereka yang menjalankan ibadah puasa. Hal ini membuat Ekitike bisa fokus menjalani kewajibannya tanpa merasa terbebani.
Menjalani puasa di tengah jadwal latihan dan pertandingan yang padat tentu bukan perkara mudah. Namun, dengan manajemen waktu yang baik serta dukungan dari klub, Ekitike mampu menjaga keseimbangan antara performa di lapangan dan komitmennya sebagai seorang muslim.
AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!
![]()
Kebersamaan dengan Salah dan Konate
Ekitike tidak sendiri dalam menjalani Ramadan di Liverpool. Ia ditemani dua rekan setim yang juga beragama Islam, yakni Mohamed Salah dan Ibrahima Konate. Kehadiran mereka tentu menjadi penyemangat tersendiri, terutama dalam menjalani ibadah puasa di negeri minoritas muslim.
Kebersamaan ini menciptakan ikatan yang lebih kuat di luar lapangan. Mereka bisa saling mengingatkan waktu salat, berbuka puasa bersama, hingga berbagi cerita tentang pengalaman Ramadan di tempat berbeda. Suasana seperti ini memberikan rasa kekeluargaan yang hangat di dalam tim.
Bagi Ekitike, dukungan dari Salah dan Konate menjadi bukti bahwa sepak bola bukan hanya soal kompetisi, tetapi juga solidaritas. Nilai kebersamaan ini memperlihatkan bagaimana perbedaan latar belakang justru memperkaya dinamika dalam skuad Liverpool.
Dipercaya Jadi Imam di AXA Training Centre

Tak hanya menjalankan puasa, Ekitike juga mendapat peran istimewa di lingkungan klub. Ia dipercaya menjadi imam salat tarawih bagi rekan-rekannya di AXA Training Centre, kompleks latihan resmi Liverpool. Kepercayaan ini menunjukkan sisi kepemimpinan dan kedewasaannya dalam hal spiritual.
Momen tersebut terungkap dari unggahan media sosial Konate yang memperlihatkan interaksi hangat di awal Ramadan. Dalam unggahannya, Konate menyampaikan ucapan “Ramadan mubarak” untuk seluruh muslim di dunia, disertai doa agar diberikan kedamaian dan keberkahan.
Ketika Ekitike membalas dengan komentar singkat “Ameen”, Konate dengan nada bercanda menyebutnya sebagai “imam AXA mulai hari ini.” Candaan itu justru memperlihatkan kedekatan serta penghormatan terhadap peran Ekitike dalam memimpin ibadah bersama.
Harmoni Iman dan Profesionalisme
Kisah Ekitike di Liverpool menggambarkan harmoni antara kehidupan profesional dan spiritual. Ia mampu membuktikan bahwa menjalani puasa tidak mengurangi dedikasinya sebagai pemain sepak bola. Sebaliknya, Ramadan justru menjadi sumber kekuatan mental dan kedisiplinan.
Lingkungan klub yang suportif juga menjadi faktor penting. Dengan manajemen yang memahami kebutuhan pemain muslim, Liverpool menunjukkan komitmennya terhadap keberagaman. Hal ini menciptakan suasana inklusif yang membuat setiap pemain merasa dihargai.
Pengalaman Ramadan pertama Ekitike di Inggris pun menjadi cerita inspiratif. Dari mencetak gol di lapangan hingga memimpin tarawih di pusat latihan, ia menunjukkan bahwa iman dan karier dapat berjalan beriringan secara seimbang dan penuh makna. Nantikan terus kabar terbaru seputar Liverpool menarik lainnya hanya di liverpooltfc.com.
